Iklan

Iklan

Iklan

5 Saham "Big Caps" Ini Terjun Bebas Saat IHSG Jeblok, Apa Saja?

, Mei 09, 2022 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kebakaan pada perdagangan awal pekan Senin (9/5/2022) atau setelah buka pasar sehabis libur panjang Lebaran. IHSG anjlok 4,42 persen ditutup pada level 6.909,75. IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah di posisi 6.896,99.

Beberapa saham big caps pun ikut terkoreksi dalam. Bahkan beberapa menyentuh auto reject bawah (ARB). Adapun lima saham yang turun tajam, antara lain Astra International (ASII), Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Negara Indonesia (BBNI).

BMRI mengalami penurunan paling dalam dan menyentuh ARB, dengan penurunan sebesar 6,98 persen, pada level Rp 8.325 per saham. BMRI mencatatkan total transaksi mencapai Rp 1,5 triliun dengan volume 175,8 juta saham. Adapun aksi jual bersih asing (net sell) BMRI mencapai Rp 131,06 miliar.

Baca juga: IHSG Anjlok, Harta Crazy Rich RI Menyusut Rp 18,89 Triliun dalam Sehari

Bank pelat merah BBRI juga mencatatkan penurunan harga saham yang cukup dalam. Sama seperti BMRI, BBRI juga ambles 6,98 persen pada level Rp 4.530 per saham. BBRI mencatatkan total transaksi sebesar Rp 2,6 triliun dengan volume 561,6 juta saham. Sementara net sell asing tercatat Rp 687,9 miliar.

Sementara itu, saham ASII sudah lebih dulu masuk ARB, yakni sejak perdagangan sesi pertama. ASII ambles 6,93 persen pada level Rp 7.050 per saham. ASII mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp 576,7 miliar dengan volume 81,1 juta saham. Aksi jual bersih asing (net sell) tercatat sebesar Rp 76,04 miliar.

Di akhir perdagangan, BBCA ikutan terjun bebas dengan penurunan 6,4 persen pada level Rp 7.600 per saham. BBCA mencatatkan total transaksi yang cukup tinggi yakni Rp 3,5 triliun, dengan volume 456,8 juta saham. Adapun net sell asing BBCA mencapai Rp 1,35 triliun.

Saham big caps lainnya yang juga ikutan merosot, yakni saham BBNI dengan penurunan 4,3 persen pada level Rp 8.825 per saham. BBNI mencatatkan total transaksi sebesar Rp 919,8 miliar dengan volume 104,5 juta saham. Sementara itu, net sell asing BBNI tercatat Rp 71,21 miliar.

Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper mengatakan, pelemahan IHSG terjadi karena kekhawatiran investor akan inflasi global. Hal ini mendorong aksi panic selling selama sesi jam perdagangan.

“IHSG ditutup melemah diakibatkan kekhawatiran investor akan inflasi secara global yang akan lebih membahayakan dibandingkan perkiraan. Ada kemungkinan bahwa The Fed tidak akan bisa menahan inflasi yang menyebabkan aksi panik selling di bursa saham global,” kata Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper Senin (9/5/2022).

Walau mengalami penurunan yang cukup dalam pada indeks, Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak melakukan trading halt atau penghentian perdagangan sementara. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI, Laksono Widodo mengatakan, pihaknya akan melakukan penghentian perdagangan atau trading halt jika penurunan menyentuh 5 persen.

“Akan ada trading halt selama 30 menit apabila indeks turun menyentuh 5 persen,” kata Laksono kepada wartawan.

Di akhir perdagangan transaksi tercatat cukup tinggi mencapai Rp 24,41 triliun dengan volume 23,76 miliar saham. Demikian juga dengan net sell asing yang mencapai Rp 2,59 triliun.

Baca juga: IHSG Berakhir Merah, Saham BBCA dan BBRI Paling Banyak Dilepas Asing

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



SUMBER BERITA

Komentar

Tampilkan

Terkini