Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Data Imunisasi Anak Bakal Tersimpan di PeduliLindungi, Kapan Mulai?


Liputan6.com, Jakarta Wajah aplikasi PeduliLindungi tengah bersiap dengan penampilan baru, yakni data imunisasi anak akan tersimpan seperti halnya data vaksinasi COVID-19. Para orangtua nantinya dapat mengakses data imunisasi melalui PeduliLindungi setelah anak mereka diimunisasi.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, persiapan sistem di PeduliLindungi masih terus dimatangkan. Diharapkan tatkala sudah siap, penggunaan digitalisasi data imunisasi anak dapat diterapkan dengan lancar.

“Sekarang memang sedang dalam persiapan (di sistem PeduliLindungi). Ya, mudah-mudahan ketika kami launching (rilis) nantinya dan saat vaksinasi (imunisasi) diberikan, itu (sistem PeduliLindungi) sudah siap,” terang Budi Gunadi menjawab pertanyaan Health Liputan6.com saat Temu Media: Bulan Imunisasi Anak Nasional di Jakarta pada Kamis, 12 Mei 2022.

“Sehingga kita akan mulai penggunaan digitalisasi sistem informasi teknologi kesehatan untuk program vaksinasi (imunisasi) nasional ini.”

Ide digitalisasi data imunisasi anak yang masuk ke dalam PeduliLindungi, kata Budi Gunadi, melihat kesuksesan penggunaan data vaksinasi COVID-19. Serupa dengan data vaksinasi COVID-19, sertifikat imunisasi anak secara digital juga akan muncul.

“Kita akan mengulangi suksesnya vaksinasi COVID-19 dengan cara meregister atau mendaftarkan, menyimpan data-data vaksinasi individu secara digital,” lanjutnya.

“Pengalaman dengan vaksinasi COVID-19, kita melakukan ini dengan teknologi informasi digital dan sertifikatnya juga dibuat digital, ditaruh di aplikasi PeduliLindungi. Jadi, yang kita lakukan adalah transformasi layanan terkait dengan imunisasi adalah melakukan digitalisasi penuh dari proses imunisasi.”

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Seorang bocah warga Cangkuang, Bandung, Jawa Barat, hidup dalam kondisi memprihatinkan akibat sakit syaraf otak yang dideritanya selama bertahun-tahun.



SUMBER BERITA