ABIBUNDA

Kumpulan Berita Indonesia Update

Loading...
Eropa Makin Cemas, Gazprom Deklarasi Force Majeure atas Pasokan Gas
dari Rusia

Eropa Makin Cemas, Gazprom Deklarasi Force Majeure atas Pasokan Gas dari Rusia


ILUSTRASI. Gazprom menyatakan force majeure atas pasokan gas dari Rusia ke Eropa. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration.

Sumber: Reuters | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID – LONDON. Gazprom menyatakan force majeure atas pasokan gas ke Eropa untuk setidaknya satu pelanggan utama, menurut surat dari perusahaan gas asal Rusia itu, yang akan menambah kekhawatiran benua biru kekurangan bahan bakar.

Tertanggal 14 Juli dan Reuters lihat pada Senin (18/7), kekuatan hukum surat tersebut adalah untuk melindungi Gazprom dari pembayaran kompensasi untuk pasokan gas yang terganggu.

Surat itu menyatakan, Gazprom, yang memonopoli ekspor gas Rusia melalui pipa, tidak bisa memenuhi kewajiban pasokannya karena keadaan “luar biasa”.

Klausul force majeure, untuk menghindari Gazprom dari kewajiban kontrak karena faktor-faktor di luar kendali, berlaku surut mulai dari pengiriman 14 Juni lalu.

Deklarasi force majeure Gazprom berlaku mulai 14 Juni, membebaskannya dari kompensasi apa pun sejak saat itu.

Baca Juga: Jerman Cemas, Pipa Nord Stream 1 dari Rusia Stop Beroperasi untuk Pemeliharaan Rutin

Sumber Reuters, yang meminta namanya tidak disebutkan karena sensitivitas masalah ini, mengatakan, surat Gazprom tersebut berkaitan dengan pasokan melalui pipa Nord Stream 1, rute utama ke Jerman dan sekitarnya.

Gazprom tidak segera berkomentar.

Pipa Nord Stream 1 ditutup untuk pemeliharaan tahunan, yang akan selesai pada 21 Juli nanti. Tetapi, beberapa pelanggan khawatir pasokan gas tidak akan Gazprom lanjutkan.

Salah satu pelanggan, grup minyak dan gas Austria OMV, mengatakan pada Senin, mereka mengharapkan pengiriman gas dari Rusia melalui pipa Nord Stream 1 berlanjut sesuai rencana.

Bahkan, sebelum Nord Stream memulai pemeliharaan 11 Juli, Gazprom pada 14 Juni telah mengurangi pengiriman melalui pipa di bawah Laut Baltik ke Jerman, dengan alasan penundaan pemeliharaan turbin di Kanada oleh pemasok peralatan Siemens Energy.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






Sumber Berita

Ketakutan Eropa Jadi Nyata! Gazprom Umumkan Force Majeure Pasokan Gas

Ketakutan Eropa Jadi Nyata! Gazprom Umumkan Force Majeure Pasokan Gas


loading…

Gazprom melayangkan surat pada sejumlah pelanggannya di Eropa mengenai keadaan kahar atas pasokan gasnya. Foto/Reuters/Ilustrasi

LONDON – Produsen gas Rusia Gazprom mengumumkan kepada para pelanggannya di Eropa bahwa perusahaan tidak dapat menjamin pasokan gas karena “keadaan luar biasa”. Hal itu berdasarkan sebuah surat yang dilihat oleh Reuters.

Mengutip Reuters, Senin (18/7/2022), surat dari perusahaan gas negara Rusia tertanggal 14 Juli itu menyatakan bahwa pihaknya menyatakan keadaan kahar alias force majeure pada pasokannya. Dikenal sebagai klausa “tindakan Tuhan” force majeure adalah hal umum dalam kontrak bisnis yang menjelaskan terjadinya keadaan ekstrem yang membebaskan pihak-pihak terkait dari kewajiban hukum mereka.

Baca Juga: Ini Sosok Gazprom: Penguasa Pasar Gas Uni Eropa Asal Rusia

Uniper, importir gas Rusia terbesar di Jerman, termasuk di antara pelanggan yang mengatakan bahwa mereka telah menerima surat tersebut. Uniper juga secara resmi menolak klaim tersebut sebagai “tidak dapat dibenarkan”.

Menurut sumber yang dikutip Reuters, keadaan kahar tersebut menyangkut pasokan gas melalui pipa Nord Stream 1, yang menjadi rute pasokan utama ke Jerman dan sekitarnya. Aliran gas melalui pipa tersebut kini terhenti karena tengah menjalani pemeliharaan tahunan yang dimulai pada 11 Juli lalu.

Sebelum pengumuman ini, Eropa telah menyatakan kekhawatirannya bahwa Moskow akan menghentikan pasokan gas melalui pipa tersebut sebagai aksi balasan atas sanksi yang dijatuhkan Barat. Hal ini dipastikan meningkatkan krisis energi yang berisiko membuat kawasan Eropa mengalami resesi.

Gazprom telah memangkas kapasitas pipa Nord Stream 1 menjadi 40% pada 14 Juni lalu dengan alasan penundaan pemeliharaan akibat tertahannya turbin yang dibutuhkan pipa tersebut di Kanada.

Kanada pada akhirnya mengembalikan turbin tersebut melalui Jerman pada 17 Juli “setelah pekerjaan perbaikan selesai”, seperti dilaporkan surat kabar Kommersant yang mengutip orang-orang yang mengetahui situasi tersebut. Laporan itu menyebutkan, asalkan tidak ada masalah dengan logistik dan bea cukai, dibutuhkan 5-7 hari lagi untuk turbin itu mencapai Rusia.

Baca Juga: Eropa Ketakutan Bila Putin Nekat Matikan Keran Pasokan Gas Rusia

Kementerian Ekonomi Jerman menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat memberikan rincian keberadaan turbin tersebut. Namun juru bicara kementerian mengatakan bahwa komponen itu adalah suku cadang pengganti yang dimaksudkan untuk digunakan mulai September, yang berarti ketidakhadirannya tidak bisa menjadi alasan untuk penurunan aliran gas sebelum pemeliharaan.

“Ini terdengar seperti petunjuk pertama bahwa pasokan gas melalui NS1 mungkin tidak akan dilanjutkan setelah pemeliharaan 10 hari berakhir,” kata Hans van Cleef, ekonom energi senior di ABN Amro.

“Tergantung pada keadaan ‘luar biasa’ apa yang ada dalam pikiran untuk menyatakan force majeure, dan apakah masalah ini bersifat teknis atau lebih politis, itu bisa berarti langkah selanjutnya dalam eskalasi antara Rusia dan Eropa/Jerman,” tambahnya.

Pasokan gas Rusia ke Eropa telah menurun selama beberapa bulan terakhir, termasuk melalui Ukraina dan Belarusia, serta melalui Nord Stream 1. Uni Eropa yang telah menerapkan sanksi terhadap Moskow, berencana stop menggunakan bahan bakar fosil Rusia pada 2027. Akan tetapi, untuk saat ini Eropa dipastikan butuh pasokan tetap berlanjut sampai sumber-sumber energi alternatif telah berkembang.

(fai)



Sumber Berita

Wabah Cacar Monyet di Eropa Lampaui 100 Kasus, Jumlah Terbesar yang
Pernah Tercatat

Wabah Cacar Monyet di Eropa Lampaui 100 Kasus, Jumlah Terbesar yang Pernah Tercatat


LONDON, KOMPAS.com – Lebih dari 100 kasus cacar monyet dilaporkan di Eropa saja, dengan pejabat Jerman menggambarkan wabah ini sebagai yang terbesar yang pernah tercatat di kawasan itu.

Kasus cacar monyet sekarang dikonfirmasi di negara-negara termasuk Inggris, Spanyol, Portugal, Belgia, Perancis, Amerika Serikat (AS), dan Australia.

Baca juga: Wabah Cacar Monyet di Spanyol Terkait dengan Aktivitas Sauna

“Dengan beberapa kasus yang dikonfirmasi di Inggris, Spanyol dan Portugal, ini adalah wabah cacar monyet terbesar dan paling luas yang pernah terlihat di Eropa,” kata layanan medis angkatan bersenjata Jerman, yang mendeteksi kasus pertamanya di negara itu pada Jumat (20/5/2022) sebagaimana dilansir Reuters.

Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada monyet, dan biasanya menyebar melalui kontak dekat.

Infeksi virus sejauh ini lebih banyak ditemukan di barat dan tengah Afrika, serta jarang menyebar ke luar dari benua tersebut. Rangkaian kasus di Eropa ini pun memicu kekhawatiran.

Namun, para ilmuwan tidak memprediksi wabah tersebut berkembang menjadi pandemi seperti Covid-19. Hal ini mengingat virus tersebut tidak menyebar semudah SARS-COV-2.

Cacar monyet biasanya tergolong penyakit virus ringan, ditandai dengan gejala demam serta ruam bergelombang yang khas.

Baca juga: Waspada Wabah Cacar Monyet, Sudah Menyebar hingga Spanyol dan AS

Fabian Leendertz, dari Robert Koch Institute, menggambarkan wabah itu sebagai epidemi.

“Namun sangat kecil kemungkinan wabah ini akan berlangsung lama. Kasus-kasus tersebut dapat diisolasi dengan baik melalui pelacakan kontak dan ada juga obat-obatan dan vaksin yang efektif yang dapat digunakan jika diperlukan,” katanya.

Tidak ada vaksin khusus untuk cacar monyet. Tetapi, data menunjukkan bahwa vaksin yang digunakan untuk membasmi cacar efektif 85 persen melawan cacar monyet, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).



Sumber Berita

Uni Eropa Bahas Rencana Hapus Penggunaan Minyak Rusia Secara Bertahap
sebagai Sanksi Baru

Uni Eropa Bahas Rencana Hapus Penggunaan Minyak Rusia Secara Bertahap sebagai Sanksi Baru


BRUSSEL, KOMPAS.com – Uni Eropa (UE) akan mengusulkan larangan impor minyak Rusia secara bertahap, sebagai bagian dari babak baru sanksi menentang invasi Rusia ke Ukraina.

Komisi Eropa, yang menyusun sanksi dari blok tersebut, saat ini sedang mempersiapkan sebuah teks yang dapat diajukan ke 27 negara anggota pada Rabu (4/5/2022), kata para diplomat pada Minggu (1/5/2022) dilansir dari AFP.

Baca juga: Zelensky Tuntut Barat Mempercepat Embargo Minyak Rusia: “Penundaan Merenggut Nyawa”

Beberapa diplomat mengatakan larangan minyak dimungkinkan setelah Jerman merubah pandangan, dari yang semula mengatakan tindakan itu akan merugikan ekonominya.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell mengatakan Rusia mengintensifkan serangannya di Ukraina, sehingga membuat sanksi baru “sangat penting”.

“Kita harus menggunakan kemampuan ekonomi dan keuangan kita untuk membuat Rusia membayar apa yang diperbuatannya,” katanya.

Komisi UE mengusulkan penerapan larangan selama enam sampai delapan bulan, untuk memberikan waktu kepada negara-negara anggotanya mendiversifikasi pasokan mereka, kata sumber tersebut.

Larangan itu membutuhkan dukungan bulat dan masih bisa digagalkan, dengan Hongaria diperkirakan akan meningkatkan oposisi yang kuat karena bergantung pada minyak Rusia dan dekat dengan Kremlin.

Baca juga: POPULER GLOBAL: Kenapa Indonesia Beli Minyak Rusia | Jajanan Kinder Ditarik karena Salmonella

Negara-negara lain khawatir bahwa larangan minyak akan menaikkan harga ketika harga konsumen sudah meningkat tajam karena perang Rusia Ukraina.

“Kami harus sangat memperhatikan reaksi pasar,” kata seorang pejabat kepada AFP dengan syarat anonim.

“Ada solusi dan kami akan sampai di sana pada akhirnya, tetapi kami harus bertindak dengan sangat hati-hati.”



Sumber Berita

Uni Eropa Terpecah Soal Bagaimana Menjauh dari Energi Rusia

Uni Eropa Terpecah Soal Bagaimana Menjauh dari Energi Rusia


loading…

Negara-negara Uni Eropa (UE) terpecah soal seberapa cepat mereka dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan energi Rusia. Sementara sanksi telah diterapkan pada sektor bisnis lain. Foto/Dok

BERLIN – Negara-negara Uni Eropa (UE) terpecah soal seberapa cepat mereka dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan energi Rusia. Sementara sanksi telah diterapkan pada sektor bisnis lain, Uni Eropa tetap sangat bergantung pada minyak dan fuel Rusia .

Menteri ekonomi Jerman mengatakan, negara itu baru bisa mengatasi larangan minyak Rusia pada akhir 2022, dimana Ia tampaknya mendukung sanksi yang lebih keras. Namun Hongaria menerangkan, pihaknya menentang langkah seperti itu dengan menyatakan tidak akan mendukung apapun yang dapat membahayakan pasokan.

Baca Juga: Pasrah, Slovakia Siap Bayar Fuel Rusia Pakai Rubel

Para menteri Uni Eropa bertemu pada hari Senin, kemarin untuk membahas bagaimana mengelola situasi, di bawah tekanan kuat untuk mengurangi aliran pendapatan yang mendukung perang Presiden Vladimir Putin di Ukraina.

Ada dua tantangan utama yang dihadapi oleh negara-negara Uni Eropa yakni tentang bagaimana membayar energi Rusia dengan cara yang tidak melanggar sanksi Uni Eropa. Lalu yang kedua, bagaimana mencari dan mengembangkan pasokan alternatif untuk menjauh dari ketergantungan pada Rusia.

Ketergantungan Eropa pada Energi Rusia

Pada konferensi pers pada awal pekan kemarin, kepala kebijakan energi Uni Eropa, Kadri Simson mengatakan, langkah Rusia menghentikan pasokan fuel ke Polandia dan Bulgaria telah memperkuat keinginan blok itu untuk menjadi independen dari bahan bakar fosil Rusia.

Tetapi menurut Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih (CREA), Uni Eropa telah mengimpor sekitar 37 miliar poundsterling bahan bakar fosil sejak konflik dimulai. Dua importir terbesar di dunia adalah Jerman diikuti oleh Italia.

Raksasa energi Gazprom menghentikan ekspor fuel ke Polandia dan Bulgaria pekan lalu setelah negara-negara itu menolak untuk mematuhi tuntutan Rusia untuk beralih ke pembayaran dalam rubel. Selanjutnya bakal banyak negara anggota UE lainnya yang akan menghadapi masalah serupa sekitar pertengahan Mei.



Sumber Berita

Uni Eropa Usul Larangan Impor Minyak Rusia Imbas Invasi Ukraina

Uni Eropa Usul Larangan Impor Minyak Rusia Imbas Invasi Ukraina


Jakarta, CNN Indonesia

Uni Eropa mengusulkan untuk melarang impor minyak Rusia dan menghapus financial institution terbesar negara itu dari jaringan pembayaran internasional, SWIFT. Usulan itu diajukan sebagai imbas dari invasi Rusia ke Ukraina.

“Sekarang, kami mengusulkan larangan terhadap minyak Rusia. Mari kita perjelas: itu tidak akan mudah. Namun, kita harus mengusahakannya,” ujar Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, seperti dikutip CNN, Rabu (4/5).

“Kami akan memastikan bahwa kita menghapus minyak Rusia secara terukur, untuk memaksimalkan tekanan pada Rusia, sambil meminimalkan dampak pada ekonomi kita sendiri.”

Meski masih harus mendapatkan persetujuan dari seluruh anggota UE, kabar mengenai usulan larangan impor ini sudah mendorong harga minyak mentah.

Minyak berjangka jenis Brent naik 2,4 persen menjadi US$107 according to barel. Sementara itu, minyak berjangka AS naik 2,7 persen menjadi US$105 according to barel pada pukul 03.30 waktu setempat.

Harga minyak memang sudah naik sekitar 40 persen sejak awal tahun ini, di tengah kekhawatiran invasi Rusia ke Ukraina akan memicu kondisi tak terduga terhadap pasokan. Hal itu juga memicu inflasi pada ekonomi Eropa.

Untuk menekan Rusia di tengah invasi, negara-negara Uni Eropa telah setuju untuk menghentikan impor batu bara Rusia.

Namun, para negara anggota merasa jauh lebih sulit untuk mencapai konsensus mengenai sanksi minyak, meski telah membahasnya selama beberapa pekan.

Di sisi lain, Hungaria baru-baru ini menegaskan kembali bahwa mereka menentang usulan embargo minyak. Sementara itu, Slovakia dilaporkan tengah mengupayakan pengecualian.

Rusia merupakan negara pengekspor minyak mentah terbesar kedua di dunia. Tahun lalu, negara itu menyumbang sekitar 27 persen dari impor minyak Uni Eropa.

Terlepas dari Uni Eropa, negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, Kanada, Inggris, dan Australia sudah lebih dulu melarang impor minyak Rusia.

(fer/has)

[Gambas:Video CNN]






Sumber Berita

Back To Top